KELUARGA PENUH CINTA, YES WE ARE
Menciptakan budaya akademik yang mampu mendorong tumbuhnya sikap ilmiah dan berbudaya luhur serta menjadi lulusan yang mandiri, kreatif dan inovatif
SCIENTIST MUDA, SCIENTIST INDONESIA
Memasyarakatkan hasil-hasil penelitian dan inovasi dalam bidang pendidikan kimia serta mendukung laju pengembangan ilmu kimia dan pendidikan kimia
BERWARNA DALAM SEGALA SUASANA
Integrasi kepribadian yang tinggi, kemandirian dan kejujuran dalam berkarya, sikap terbuka dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan IPTEK
BELIA, CERIA, WAJAH PENGUBAH DUNIA
Pengabdian kepada masyarakat melalui penyebarluasan dan penerapan ilmu pendidikan kimia guna meningkatkan kualitas pembelajaran kimia dan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kimia
Tampilkan postingan dengan label KELAS XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELAS XII. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 November 2012
SIFAT KOLIGATIF
A. Molalitas dan Fraksi Mol
1. Molalitas (m)
Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut. Molalitas dapat dinyatakan dengan rumus:
2. Fraksi Mol (X)
Fraksi mol menyatakan perbandingan mol suatu zat dengan mol seluruh
zat dalam larutan. Dalam campuran zat dengan zat B, maka fraksi mol
masing-masing zat dapat dinyatakan dengan:
B. Penurunan Tekanan Uap ( P)
Bila kita memanaskan air (atau zat yang dapat menguap lainnya) dalam
ketel yang tertutup, maka ketika air endidih tutup ketel dapat
terangkat, mengapa hal ini terjadi? Apa sebenarnya yang menekan tutup
ketel tersebut, air atau uap airnya? Dalam ruang tertutup air akan
menguap sampai ruangan tersebut jenuh, yang disertai dengan pengembunan
sehingga terjadi kesetimbangan air dengan uap air.
H2O(l) à H2O(g)
Terjadinya uap air ini akan menimbulkan tekanan sehingga menekan
ketel. Ketika air mendidih (suhu 100°C) banyak air yang menguap sehingga
tekanan yang ditimbulkan lebih besar hingga tutup ketel terangkat.
Tekanan yang ditimbulkan oleh uap jenuh air ini disebut tekanan uap jenuh air.
Besarnya tekanan uap jenuh untuk setiap zat tidak sama, bergantung
pada jenis zat dan suhu. Zat yang lebih sukar menguap, misalnya glukosa,
garam, gliserol memiliki uap yang lebih kecil dibanding zat yang lebih
mudah menguap, misalnya eter.
Bila suhu dinaikkan, energi kinetik molekul-molekul zat bertambah
sehingga semakin banyak molekul-molekul yang berubah menjadi gas
akibatnya tekanan uap semakin besar. Perhatikan tekanan uap jenuh air
pada berbagai suhu pada Tabel berikut :
Apa yang terjadi terhadap tekanan uap bila ke dalam air (pelarut)
ditambahkan zat terlarut yang sukar menguap? Bila zat yang dilarutkan
tidak mudah menguap, maka yang menguap adalah pelarutnya, sehingga
adanya zat terlarut menyebabkan partikel pelarut yang menguap menjadi
berkurang akibatnya terjadi penurunan tekanan uap. Jadi, dengan adanya
zat terlarut menyebabkan penurunan tekanan uap. Dengan kata lain tekanan
uap larutan lebih rendah dibanding tekanan uap pelarut murninya.
Penurunan tekanan uap yang terjadi merupakan selisih dari tekanan uap
jenuh pelarut murni (P°) dengan tekanan uap larutan (P).
Tekanan uap larutan ideal dapat dihitung berdasar hukum Raoult “
Tiap komponen dalam suatu larutan melakukan tekanan yang sama dengan
fraksi mol kali tekanan uap dari komponen (pelarut) murni”.
Dari rumus di atas apa yang dapat Anda simpulkan tentang hubungan
penurunan tekanan uap dengan fraksi mol zat terlarut? Hubungan tekanan
uap jenuh larutan dengan tekanan uap jenuh komponen-komponen pada
larutan ideal (larutan-larutan encer) dapat digambarkan sebagai diagram
seperti pada Gambar berikut:
C. Kenaikan Titik Didih ( Tb ) dan Penurunan Titik Beku ( Tf )
Pernahkah Anda mengukur suhu air mendidih dan air membeku? Bagaimana
bila air yang dididihkan/dibekukan diberi zat terlarut, lebih rendah,
sama, atau lebih tinggi titik didih dan titik bekunya dibanding titik
didih dari titik beku air?
Titik didih air yang sering disebutkan 100°C adalah titik didih
normal yaitu titik didih pada tekanan 760 mmHg. Samakah titik didih air
di daerah Anda dengan titik didih air di puncak gunung yang lebih tinggi
dari daerah Anda? Mengapa demikian?
Titik didih dan titik beku suatu zat cair dipengaruhi oleh tekanan
udara luar. Suatu zat cair mendidih pada saat tekanan uap jenuh cairan
sama dengan tekanan udara luar. Di puncak gunung tekanan udara luar
lebih rendah sehingga untuk menyamakan tekanan uap jenuh zat cair yang
didihkan lebih cepat tercapai, hal ini berarti titik didihnya lebih
rendah.
Demikian halnya pengaruh zat terlarut dalam zat cair (pelarut). Pada
tekanan udara luar 760 mmHg, air mendidih pada suhu 100°C. Dengan adanya
zat terlarut menyebabkan penurunan tekanan uap larutan, sehingga
pada suhu 100°C larutan air belum mendidih karena tekanan uapnya
belum mencapai 760 mmHg. Untuk mencapai tekanan uap 760 mmHg maka perlu
dipanaskan lebih tinggi lagi akibatnya larutan mendidih pada suhu lebih
dari 100°C. Ini berarti bahwa titik didih larutan lebih tinggi daripada
titik didih pelarut murninya. Selisih antara titik didih larutan dengan
titik didih pelarut murni disebut kenaikan titik didih (∆Tb ).
∆Tb = T b larutan + Tb pelarut
Sebaliknya pada titik beku normal karena tekanan uap larutan juga
lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murni. Sehingga agar larutan
membeku, harus didinginkan akibatnya titik beku larutan lebih rendah
dari titik beku pelarut murni. Perubahan temperatur titik beku ini
disebut penurunan titik beku larutan (∆Tf ).
∆Tf = Tf pelarut – Tf larutan
Jadi, pengaruh zat terlarut nonelektrolit yang tidak mudah menguap
adalah menurunkan tekanan uap, menaikkan titik didih, dan menurunkan
titik beku.
D. Tekanan Osmotik ( )
Bila dua larutan yang konsentrasinya berbeda, yang satu pekat dan
yang lainnya encer dipisahkan oleh membran semipermiabel, maka
molekulmolekul pelarut akan mengalir dari larutan yang lebih encer ke
larutan yang lebih pekat, sedangkan molekul zat terlarut tidak mengalir.
Hal ini terjadi karena partikel pelarut lebih kecil daripada partikel
zat terlarut sehingga partikel pelarut dapat menembus membran
semipermiabel dan partikel zat terlarut tidak. Aliran suatu pelarut dari
suatu larutan dengan konsentrasi lebih rendah ke larutan dengan
konsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel disebut osmosis.
Pada larutan encer, kenaikan titik didih dan penurunan titik beku berbanding lurus dengan konsentrasi molal larutan.
Harga Kb dan Kf untuk beberapa pelarut dicantumkan pada Tabel berikut :
Dengan data tetapan titik didih dan titik beku molal kita dapat
menentukan titik didih suatu larutan, konsentrasi larutan, dan massa
molekul relatif.
D. Tekanan Osmotik (p)
Bila dua larutan yang konsentrasinya berbeda, yang satu pekat dan
yang lainnya encer dipisahkan oleh membran semipermiabel, maka
molekul-molekul pelarut akan mengalir dari larutan yang lebih encer ke
larutan yang lebih pekat, sedangkan molekul zat terlarut tidak mengalir.
Hal ini terjadi karena partikel pelarut lebih kecil daripada partikel
zat terlarut sehingga partikel pelarut dapat menembus membran
semipermiabel dan partikel zat terlarut tidak. Aliran suatu pelarut dari
suatu larutan dengan konsentrasi lebih rendah ke larutan dengan
konsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel disebut osmosis.
Peristiwa osmosis dapat dicegah dengan memberi tekanan pada permukaan
larutan. Tekanan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya osmosis ini
disebut tekanan osmotik. Tekanan osmotik bergantung pada
konsentrasi dan bukan pada jenis partikel zat terlarut. Menurut Van’t
Hoof, tekanan osmotik larutan encer dapat dihitung dengan rumus yang
serupa dengan persamaan gas ideal.
Keterangan :
p = tekanan osmotik (atm)
V = volume larutan (liter)
R = tetapan gas (0,082 L atm/mol K)
T = suhu mutlak (K)
Penerapan Tekanan Osmotik dan Osmosis
Selain menggunakan penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih dan
penurunan titik beku, pengukuran tekanan osmosis juga dapat digunakan
untuk menentukan massa molekul relatif (Mr) suatu
senyawa. Untuk larutan yang sangat encer, pengukuran tekanan osmotik
lebih akurat dibanding pengukuran titik didih atau titik beku sehingga
penentuan massa molekul relatif dengan mengukur tekanan osmotik akan
lebih teliti. Peristiwa osmosis dapat dimanfaatkan untuk penyediaan
cairan infus dan industri pengolahan air laut menjadi air tawar dengan
osmosis balik.
Sifat Koligatif Larutan Elektrolit
Perbandingan sifat koligatif larutan elektrolit yang terukur dengan
sifat koligatif larutan nonelektrolit yang diharapkan pada konsentrasi
yang sama disebut faktor Van’t Hoff. (i). Dengan demikian untuk larutan elektrolit berlaku rumus-rumus sifat koligatif sebagai berikut:
∆Tb = m × Kb × i
∆Tf = m × Kf × i
p = m × R × T × i
dengan:
i = 1 + (n - 1).a
Catatan :
n = banyaknya ion
a = derajat ionisasi
untuk elektrolit kuat (a= 1), harga i = n.
sumber: esdikimia.wordpress.com/category/materi-kimia/kimia-kelas-xii/
PENYETARAAN REAKSI REDOKS
Penyetaraan reaksi redoks berarti menyamakan jumlah atom dan muatan
masing-masing unsur pada pereaksi dengan jumlah atom dan muatan
masing-masing unsur pada hasil reaksi. Artinya sebelum muatan dan jumlah
atom di kedua ruas (pereaksi dan hasil reaksi) sama, maka reaksi masih
belum setara.
Penyetaraan persamaan reaksi redoks dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
- Cara Setengah Reaksi
- Cara Perubahan Bilangan Oksidasi
Dengan kedua cara ini kita akan mendapatkan reaksi redoks yang
setara. Jadi tidak ada perbedaan hasil diantara keduannya, tergantung
anda, mana yang lebih dikuasai.
Baiklah sekarang mari kita bahas masing-masing cara menyetarakan reaksi redoks berikut ini :
1. CARA SETENGAH REAKSI
Penyetaraan persamaan reaksi redoks dengan cara setengah reaksi,
yaitu dengan melihat elektron yang diterima atau dilepaskan. Penyetaraan
dilakukan dengan menyamakan jumlah elektronnya. CARA INI DIUTAMAKAN UNTUK REAKSI DENGAN SUASANA REAKSI YANG TELAH DIKETAHUI.
Langkah-langkah penyetaraan :
Contoh : MnO4- + Cl- –> Mn2+ + Cl2 (Asam)
1. Menuliskan setengah reaksi kedua zat yang akan direaksikan
MnO4- –> Mn2+
Cl- –> Cl2
2. Menyetarakan jumlah atom unsur yang terlibat
MnO4- –> Mn2+
2Cl- –> Cl2
3. Menambah H2O pada suasana Asam (pada yg kurang O) dan pada suasana Basa (pada yg kelebihan O)
MnO4- –> Mn2+ + 4H2O
2Cl- –> Cl2
4. Menyetarakan atom Hidrogen (H) dengan menambah H+ pada suasana Asam dan OH- pada susana basa
MnO4- + 8H+ –> Mn2+ + 4H2O
2Cl- –> Cl2
5. Menyetarakan muatan dengan menambah elektron
MnO4- + 8H+ + 5e –> Mn2+ + 4H2O [selisih elektron pereaksi (7) dan hasil reaksi (2)]
2Cl- –> Cl2 + 2e [elektron pereaksi -2 maka di hasil reaksi harus ditambah 2e]
6. Menyamakan jumlah elektron yang diterima dengan yang dilepas
dengan perkalian silang antar elektron (didapat dari penambahan jumlah
elektron)
MnO4- + 8H+ + 5e –> Mn2+ + 4H2O | x 2
2Cl- –> Cl2 + 2e | x 5
Hasilnya menjadi :
2MnO4- + 16H+ + 10e –> 2Mn2+ + 8H2O
10Cl- –> 5Cl2 + 10e
————————————————————
2MnO4- + 10Cl- + 16H+ –> 2Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O
Buktikan jumlah atom dan muatannya apakah sudah sama atau belum?….
2. CARA PERUBAHAN BILANGAN OKSIDASI
Penyetaraan persamaan reaksi redoks dengan cara perubahan bilangan
oksidasi, dilakukan dengan melihat kecenderungan perubahan bilangan
oksidasinya. Penyetaraan dilakukan dengan menyamakan perubahan bilangan
oksidasi. PADA CARA INI SUASANA REAKSI UMUMNYA BELUM DIKETAHUI (AKAN DIKETAHUI DARI PERBEDAAN MUATAN PEREAKSI DAN HASIL REAKSI)
Langkah-langkah penyetaraan :
Contoh : Fe2+ + Cr2O72- –> Fe3+ + Cr3+
1. Menyetarakan unsur yang mengalami perubahan biloks
Fe2+ + Cr2O72- –> Fe3+ + 2Cr3+
- Menentukan biloks masing-masing unsur /senyawa
Fe2+ + Cr2O72- –> Fe3+ + 2Cr3+
2+ +12 3+ +6
2. Menentukan selisih perubahan biloks
Fe2+ –> Fe3+ [biloks naik (oksidasi) –> selisih +2 ke +3 adalah 1
Cr2O72- –> 2Cr3+ [biloks turun (reduksi) –> selisih +12 ke +6 adalah 6
3. Menyamakan perubahan biloks dengan perkalian silang
Fe x 6 –> setiap anda menemukan unsur Fe kalikan dengan 6
Cr x 1 –> setiap anda menemukan unsur Cr kalikan dengan 1
Sehingga reaksi diatas menjadi
6Fe2+ + Cr2O72- –> 6Fe3+ + 2Cr3+
4. Menentukan muatan pereaksi dan hasil reaksi ( Jika muatan pereaksi lebih negatif/rendah maka ditambah H+ berarti suasana Asam. Jika muatan pereaksi lebih positif/tinggi, maka ditambah OH- berarti suasana basa.
6Fe2+ + Cr2O72- –> 6Fe3+ + 2Cr3+
+12 – 2 = +10 18+ 6 = +24
Artinya : muatan pereaksi lebih rendah, maka tambahkan H+ sebanyak selisih muatannya yaitu 24-10 = 14 dan diletakkan di tempat yang muatannya kurang. Sehingga reaksi menjadi
6Fe2+ + Cr2O72- + 14H+ –> 6Fe3+ + 2Cr3+
5. Menyetarakan Hidrogen dengan menambah H2O pada tempat yang belum ada oksigennya.
6Fe2+ + Cr2O72- + 14H+ –> 6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O
LATIHAN :
Setarakan reaksi redoks berikut : MnO4- +ClO2- –> MnO2 + ClO4-
Posted in: KELAS XIICARA MENJELASKAN HIBRIDISASI DAN BENTUK MOLEKUL XeF4
Hibridisasi adalah penyetaraan tingkat energi melalui penggabungan antarorbital.
Senyawa kovalen atau kovalen koordinasi. Teori hibridisasi dipromosikan
oleh kimiawan Linus Pauling dalam menjelaskan struktur molekul seperti
metana (CH4). Secara historis, konsep ini dikembangkan untuk
sistem-sistem kimia yang sederhana, namun pendekatan ini selanjutnya
diaplikasikan lebih luas, dan sekarang ini dianggap sebagai sebuah
heuristik yang efektif untuk merasionalkan struktur senyawa organik.
Teori hibridisasi tidaklah sepraktis
teori orbital molekul dalam hal perhitungan kuantitatif. Masalah-masalah
pada hibridisasi terlihat jelas pada ikatan yang melibatkan orbital d,
seperti yang terdapat pada kimia koordinasi dan kimia organologam.
Walaupun skema hibridis logam transisi dapat digunakan, ia umumnya tidak akurat.
Sangatlah penting untuk dicatat bahwa orbital adalah sebuah model representasi dari tingkah laku elektron-elektron dalam molekul. Dalam kasus hibridisasi yang sederhana, pendekatan ini didasarkan pada orbital-orbital atom hidrogen.
Sangatlah penting untuk dicatat bahwa orbital adalah sebuah model representasi dari tingkah laku elektron-elektron dalam molekul. Dalam kasus hibridisasi yang sederhana, pendekatan ini didasarkan pada orbital-orbital atom hidrogen.
Orbital-orbital yang terhibridisasikan
diasumsikan sebagai gabungan dari orbital-orbital atom yang bertumpang
tindih satu sama lainnya dengan proporsi yang bervariasi.
Orbital-orbital hidrogen digunakan sebagai dasar skema hibridisasi
karena ia adalah salah satu dari sedikit orbital yang persamaan
Schrödingernya memiliki penyelesaian analitis yang diketahui.
Orbital-orbital ini kemudian diasumsikan terdistorsi sedikit untuk
atom-atom yang lebih berat seperti karbon, nitrogen, dan oksigen. Dengan
asumsi-asumsi ini, teori hibridisasi barulah dapat diaplikasikan.
Perlu dicatat bahwa kita tidak memerlukan
hibridisasi untuk menjelaskan molekul, namun untuk molekul-molekul yang
terdiri dari karbon, nitrogen, dan oksigen, teori hibridisasi
menjadikan penjelasan strukturnya lebih mudah.Teori hibridisasi sering
digunakan dalam kimia organik, biasanya digunakan untuk menjelaskan
molekul yang terdiri dari atom C, N, dan O (kadang kala juga P dan S).
Untuk menjelaskan bagaimana Hibridisasi Gas Mulia seperti XeF4, mari ikuti penjelasan berikut :
Selanjutnya mari kita lihat diagram orbital Xe
selanjutnya karena ada 4 atom F maka perubahannya menjadi
Posted in: KELAS XIIREAKSI-REAKSI SENYAWA ORGANIK
REAKSI SUBTITUSI, ADISI, ELIMINASI
Reaksi Subtitusi adalah reaksi penggantian (penukaran) suatu gugus atom oleh gugus atom lain. Pada reaksi subtitusi tidak terjadi perubahan ikatan, ikatan tunggal –> ikatan tunggal.
Contoh :
- Reaksi monoklorinasi propana (pengantian satu atom H oleh satu atom Cl), misalnya : C3H8 + Cl2 –> C3H7Cl + HCl
- Reaksi dibrominasi propana (penggantian dua atom H oleh dua atom Br), misalnya : C3H8 + 2Br2 –> C3H6Br2 + 2HBr
Reaksi Adisi adalah reaksi penambahan suatu atom pada ikatan rankap dalam suatu senyawa. Pada reaksi adisi terjadi perubahan ikatan, ikatan rangkap tiga –> ikatan rangkap dua, atau ikatan rangkap dua –> ikatan tunggal
Contoh :- Reaksi adisi pada Alkena dan Alkuna
CHºCH + 2H2 –> CH3 – CH3
CH2=CH–CH3 +HBr –> CH3–CHBr–CH3 (Pada reaksi ini berlaku hukum Markovnikov ”Atom H dari asam halida ditangkap oleh C berikatan rangkap yang mengikat atom H lebih banyak atau gugus alkil yang lebih kecil)
- Reaksi adisi hidrogen pada senyawa yang mempunyai gugus karbonil (alkanal dan keton)
R-CO– R + H2 –> R–CHOH–R (menghasilkan suatu alkohol sekunder)
Catatan : Reaksi-reaksi di atas disebut juga reaksi reduksi aldehida da keton
Reaksi Eliminasi adalah reaksi penghilangan suatu gugus atom pada suatu senyawa. Pada reaksi elimiasi teradi perubahan ikatan, ikatan tunggal –> ikatan rangkap
Contoh :CH3–CH3 –> CH2=CH2 + H2
CH3–CH2Br –> CH2=CH2 + HBr
CH3–CH2OH –> CH2=CH2 + H2O
REAKSI-REAKSI SENYAWA ALKOHOL
1. Reaksi OksidasiAlkohol primer (R-CH2OH) Aldehida (R-CHO) Asam karboksilat (R-COOH)
Alkohol tersier (R3COH), tidak dapat dioksidasi
2. Reaksi dengan Na
Semua alkohol bereaksi dengan logam Na, menurut persamaan reaksi berikut :
2R-OH + 2Na –> 2R-ONa + H2
3. Reaksi dengan fosfortriklorida (PCl3)
Semua alkohol bereaksi dengan PCl3, menurut persamaan reaksi berikut :
3R-OH + PCl3 –> 3R-Cl + H3PO3
4. Reaksi dengan Asam Sulfat (H2SO4)
a. Pada suhu sekitar 1300C terjadi penggabungan dua molekul alkohol menjadi eter (eterifikasi)
2R-OH R-O-R + H2O
- Pada suhu sekitar 1800C terjadi eliminasi air dari alkohol membentuk suatu alkena
REAKSI SENYAWA ETER
Reaksi Subtitusi Eter, eterdapat mengalami reaksi subtitusi dengan HBr atau HI menghasilkan suatu alkohol dan alkil halida; R-O-R’ +HX à R-OH + R’-X (Catatan : R yang lebih panjang membentuk alkohol sedangkan R’ yang lebih pendek membentuk alkil halida).
Contoh :
CH3-CH2-O-CH2-CH3 + HI –> CH3-CH2-OH + CH3-CH2I
CH3-CH2-CH2-O-CH2-CH3 + HBr –> CH3-CH2-CH2-OH + CH3-CH2Br
REAKSI-REAKSI SENYAWA ASAM KARBOKSILAT DAN ESTER
1. Reaksi Penetralan, reaksi antara asam karboksilat dengan basa mengahsilkan garam dan airR-COOH + NaOH –> R-COONa + H2O
2. Reaksi Esterifikasi, reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol menghasilkan ester dan air
R-COOH + R’-OH–> R-COOR’ + H2O
3. Reaksi Hidrolisis, reaksi antara ester dengan air dalam suasana asam menghasilkan asam karboksilat dan alkohol
R-COOR’ + H2O –> R-COOH + R’-OH
4. Reaksi Safonifikasi (Penyabunan), reaksi antara ester dengan basa menghasilkan garam dan alkohol
R-COOR’ + NaOH –> R-COONa + R’-OH
Pada reaksi pembuatan sabun, maka ester yang digunakan adalah suatu lemak (trigliserida) dengan KOH menghasilkan suatu garam lemak (sabun) dan gliserol
Contoh :
CH2-OOC-C17H35 CH2-OH
| |
CH-OOC-C17H35 + 3KOH –> 3C17H35COOK + CH-OH
| |
CH2-OOC-C17H35 CH2-OH
Gliseril tristrearat Kalium stearat Gliserol
(Suatu Lemak) (Suatu Sabun) (Alkohol hasil sampingan)
REAKSI-REAKSI PENGUJIAN SENYAWA ORGANIK
1. Reaksi Uji Ikatan Rangkapa. Penentuan keberadaan ikatan rangkap dalam suatu senyawa dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi brom (Br2) yang berwarna coklat. Bila warna coklat brom hilang maka dalam senywa terdapat ikatan rangkap karena terjadi reaksi adisi Br2 terhadap karbon berikatan rangkap.
b. Untuk menentukan letak iakatan rangkap dalam suatu senyawa dilakukan reaksi ozonolisis. R-CH=CH-R’ + O3 –>R-CH2OH + R’-CH2OH
2. Reaksi Uji Iodoform, reaksi uji ini dilakukan untuk menentukan keberadaan gugus metil ujung dalam senyawa alkohol atau senyawa karbonil (aldehida atau keton): CH3-CHOH- atau CH3-CO-
sumber: esdikimia.wordpress.com/category/materi-kimia/kimia-kelas-xii/
Posted in: KELAS XIISEL VOLTA
Sel Galvani atau disebut juga dengan sel volta adalah sel elektrokimia yang dapat menyebabkan terjadinya energi listrik dari suatu reaksi redoks yang spontan. reaksi redoks spontan yang dapat mengakibatkan terjadinya energi listrik ini ditemukan oleh Luigi Galvani dan Alessandro Guiseppe Volta.
Sel Volta adalah rangkaian sel yang dapat menghasilkan arus listrik. Dalam sel tersebut terjadi perubahan dari reaksi redoks menghasilkan arus listrik.
Sel volta terdiri atas elektroda tempat berlangsungnya reaksi oksidasi disebut anoda(electrode negative), dan tempat berlangsungnya reaksi reduksi disebut katoda(electrode positif).
Rangkaian Sel Galvani
sel galvani terdiri dari beberapa bagian, yaitu:- voltmeter, untuk menentukan besarnya potensial sel.
- jembatan garam (salt bridge), untuk menjaga kenetralan muatan listrik pada larutan.
- anoda, elektroda negatif, tempat terjadinya reaksi oksidasi. pada gambar, yang bertindak sebagai anoda adalah elektroda Zn/seng (zink electrode).
- katoda, elektroda positif, tempat terjadinya reaksi reduksi. pada gambar, yang bertindak sebagai katoda adalah elektroda Cu/tembaga (copper electrode).
Proses dalam Sel Galvani
Pada anoda, logam Zn melepaskan elektron dan menjadi Zn2+ yang larut.- Zn(s) → Zn2+(aq) + 2e-
- Cu2+(aq) + 2e- → Cu(s)
- Zn(s) + Cu2+(aq) → Zn2+(aq) + Cu(s)
Sel Volta dalam kehidupan sehari – hari :
1. Sel Kering (Sel Leclanche)
Persamaan reaksinya :
Katode : 2MnO2 + 2H+ + 2e ” Mn2O3 + H2O
Anode : Zn ” Zn2+ + 2e
Reaksi sel : 2MnO2 + 2H+ + Zn ” Mn2O3 + H2O + Zn2
2. Sel Aki
Anode : Pb + SO4 2- ” PbSO4 + 2e
Katode : PbO2 + SO42-+ 4H++ 2e ” PbSO4 + 2H2O
Reaksi sel : Pb + 2SO4 2- + PbO2 + 4H+ ” 2PbSO4 + 2H2O
Reaksi Pengisian aki :
2PbSO4 + 2H2O ” Pb + 2SO4 2- + PbO2 + 4H+
Reaksi yang terjadi :
Anoda : Zn(s) + 2OH-(l) ” Zn(OH)2(s) + 2e
Katoda : Ag2O(s) + H2O(l) + 2e ” 2Ag(s) + 2OH-(aq)
Reaksi Sel : Zn(s) + Ag2O(s) + H2O(l) ” Zn(OH)2(s) + 2Ag(s)
Potensial sel yang dihasilkan adalah 1,34 V
4. Sel Nikel Cadmium (Nikad)
Sel Nikad merupakan sel kering yang dapat diisi kembali
(rechargable). Anodenya terbuat dari Cd dan katodenya berupa Ni2O3
(pasta). Beda potensial yang dihasilkan sebesar 1,29 V. Reaksinya dapat
balik :
NiO(OH).xH2O + Cd + 2H2O → 2Ni(OH)2.yH2O + Cd(OH)2
5. Sel Bahan Bakar
Sel Bahan bakar merupakan sel Galvani dengan pereaksi – pereaksinya
(oksigen dan hidrogen) dialirkan secara kontinyu ke dalam elektrode
berpori. Sel ini terdiri atas anode dari nikel, katode dari nikel oksida
dan elektrolit KOH.
Reaksi yang terjadi :
Anode : 2H2(g) + 4OH-(aq) → 4H2O(l) + 4e
Katode : O2(g) + 2H2O(l) + 4e → 4OH-(aq)
Reaksi sel : 2H2(g) + O2 → 2H2O(l)
Sumber: esdikimia.wordpress.com/category/materi-kimia/kimia-kelas-xii/
2PbSO4 + 2H2O ” Pb + 2SO4 2- + PbO2 + 4H+
3. Sel Perak Oksida
Sel ini banyak digunakan untuk alroji, kalkulator dan alat elektronik.Reaksi yang terjadi :
Anoda : Zn(s) + 2OH-(l) ” Zn(OH)2(s) + 2e
Katoda : Ag2O(s) + H2O(l) + 2e ” 2Ag(s) + 2OH-(aq)
Reaksi Sel : Zn(s) + Ag2O(s) + H2O(l) ” Zn(OH)2(s) + 2Ag(s)
Potensial sel yang dihasilkan adalah 1,34 V
4. Sel Nikel Cadmium (Nikad)
Sel Nikad merupakan sel kering yang dapat diisi kembali
(rechargable). Anodenya terbuat dari Cd dan katodenya berupa Ni2O3
(pasta). Beda potensial yang dihasilkan sebesar 1,29 V. Reaksinya dapat
balik :NiO(OH).xH2O + Cd + 2H2O → 2Ni(OH)2.yH2O + Cd(OH)2
5. Sel Bahan Bakar
Sel Bahan bakar merupakan sel Galvani dengan pereaksi – pereaksinya
(oksigen dan hidrogen) dialirkan secara kontinyu ke dalam elektrode
berpori. Sel ini terdiri atas anode dari nikel, katode dari nikel oksida
dan elektrolit KOH.Reaksi yang terjadi :
Anode : 2H2(g) + 4OH-(aq) → 4H2O(l) + 4e
Katode : O2(g) + 2H2O(l) + 4e → 4OH-(aq)
Reaksi sel : 2H2(g) + O2 → 2H2O(l)
Sumber: esdikimia.wordpress.com/category/materi-kimia/kimia-kelas-xii/
Posted in: KELAS XIIKorosi
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) <–> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <–> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <–> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi
membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida
terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang
bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode,
bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan
rapatan logam itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst
akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi.
Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau
tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
Dampak dari peristiwa korosi bersifat sangat merugikan. Contoh nyata adalah keroposnya jembatan, bodi mobil, ataupun berbagai konstruksi dari besi lainnya.Siapa di antara kita tidak kecewa bila bodi mobil kesayangannya tahu-tahu sudah keropos karena korosi. Pasti tidak ada. Karena itu, sangat penting bila kita sedikit tahu tentang apa korosi itu, sehingga bisa diambil langkah-langkah antisipasi.
Peristiwa korosi sendiri merupakan proses elektrokimia, yaitu proses (perubahan / reaksi kimia) yang melibatkan adanya aliran listrik. Bagian tertentu dari besi berlaku sebagai kutub negatif (elektroda negatif, anoda), sementara bagian yang lain sebagai kutub positif (elektroda positif, katoda). Elektron mengalir dari anoda ke katoda, sehingga terjadilah peristiwa korosi.
Ion besi (II)yang terbentuk pada anoda selanjutnya teroksidasi menjadi ion besi (III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi (karat besi), Fe2O3.xH2O.
Dari reaksi terlihat bahwa korosi melibatkan adanya gas oksigen dan air. Karena itu, besi yang disimpan dalam udara yang kering akan lebih awet bila dibandingkan ditempat yang lembab. Korosi pada besi ternyata dipercepat oleh beberapa faktor, seperti tingkat keasaman, kontak dengan elektrolit, kontak dengan pengotor, kontak dengan logam lain yang kurang aktif (logam nikel, timah, tembaga), serta keadaan logam besi itu sendiri (kerapatan atau kasar halusnya permukaan).
Pencegahan korosi
Pencegahan korosi didasarkan pada dua prinsip berikut :
- Mencegah kontak dengan oksigen dan/atau air
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Bila salah satu tidak ada, maka peristiwa korosi tidak dapat terjadi. Korosi dapat dicegah dengan melapisi besi dengan cat, oli, logam lain yang tahan korosi (logam yang lebih aktif seperti seg dan krom). Penggunaan logam lain yang kurang aktif (timah dan tembaga) sebagai pelapis pada kaleng bertujuan agar kaleng cepat hancur di tanah. Timah atau tembaga bersifat mampercepat proses korosi.
- Perlindungan katoda (pengorbanan anoda)
Besi yang dilapisi atau dihubugkan dengan logam lain yang lebih aktif akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katoda. Di sini, besi berfungsi hanya sebagai tempat terjadinya reduksi oksigen. Logam lain berperan sebagai anoda, dan mengalami reaksi oksidasi. Dalam hal ini besi, sebagai katoda, terlindungi oleh logam lain (sebagai anoda, dikorbankan). Besi akan aman terlindungi selama logam pelindungnya masih ada / belum habis. Untuk perlindungan katoda pada sistem jaringan pipa bawah tanah lazim digunakan logam magnesium, Mg. Logam ini secara berkala harus dikontrol dan diganti.
- Membuat alloy atau paduan logam yang bersifat tahan karat, misalnya besi dicampur dengan logam Ni dan Cr menjadi baja stainless (72% Fe, 19%Cr, 9%Ni).
|
1.
|
Faktor yang berpengaruh
1. Kelembaban udara
|
|
2.
|
Mencegah Korosi
1. Dicat
|
Posted in: KELAS XIISenin, 19 November 2012
Sifat Fisika Dan Kimia Gas Hidrogen
| Titik Didih (oC) | -252.6oC |
| Titik Lebur (oC) | -259.2oC |
| Dengan Halogen |
H2 (g) + Cl2 (g) → 2 HCl (g)
HCl (g) + air → H+ (aq) + Cl- (aq)
|
Dengan Logam
Golongan Alkali
|
2 Na (s) + H2 (g) → 2 Na+H- (s) + energi
Na+H- (s) + H2O → NaOH (aq) + H2 (g)
|
| Susunan Atom | 1 proton + 1 elektron |
| Isotop | 11H , 12H , 13H |
| Potensial Iobisasi (kJ/mol) | 56.9 kJ/mol |
Sumber: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_sma1/kelas-3/sifat-fisika-dan-kimia-gas-hidrogen/
Posted in: KELAS XIIUnsur-Unsur Transisi Dan Ion Kompleks
| a. Unsur Transisi | Unsur yang dapat menggunakan elektron pada kulit pertama sebelum kulit terluar untuk berikatan dengan unsur lain | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| b. Ion Kompleks | Terdiri dari Ion pusat dari Ligand
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| c. Daftar Ion Kompleks |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Posted in: KELAS XIIPolimer: Plastik
Meskipun istilah plastik dan polimer seringkali dipakai secara
sinonim, namun tidak berarti semua polimer adalah plastik. Plastik
merupakan polimer yang dapat dicetak menjadi berbagai bentuk yang
berbeda. Umumnya setelah suatu polimer plastik terbentuk, polimer
tersebut dipanaskan secukupnya hingga menjadi cair dan dapat dituangkan
ke dalam cetakan. Setelah penuangan, plastik akan mengeras jika plastik
dibiarkan mendingin. Perhatikan Gambar 12, sebuah meja dari plastik yang dibuat dengan cara cetakan.
Gambar 12 . Meja
yang terbuat dari plastik merupakan plastik cetakan dengan kualitas
yang kuat dan tahan lama dan lebih kuat dari bahan-bahan semula.
Sifat
plastik pada dasarnya adalah antara serat dan elastomer. Jenis plastik
dan penggunaannya sangat luas. Plastik yang banyak digunakan berupa
lempeng, lembaran dan film. Ditinjau dari penggunaannya plastik
digolongankan menjadi dua yaitu plastik keperluan umum dan plastik untuk
bahan konstruksi (engineering plastics). Plastik mempunyai berbagai sifat yang menguntungkan, diantaranya:
a. Umumnya kuat namun ringan.
b. Secara kimia stabil (tidak bereaksi dengan udara, air, asam, alkali dan berbagai zat kimia lain).
c. Merupakan isolator listrik yang baik.
d. Mudah dibentuk, khusunya dipanaskan.
e. Biasanya transparan dan jernih.
f. Dapat diwarnai.
g. Fleksibel/plastis
h. Dapat dijahit.
i. Harganya relatif murah.
Beberapa
contoh plastik yang banyak digunakan antara lain polietilen, poli(vinil
klorida), polipropilen, polistiren, poli(metil pentena), poli
(tetrafluoroetilen) atau teflon.
1. Polietilen
Poli
etilen adalah bahan termoplastik yang kuat dan dapat dibuat dari yang
lunak sampai yang kaku. Ada dua jenis polietilen yaitu polietilen
densitas rendah (low-density polyethylene / LDPE) dan polietilen densitas tinggi (high-density polyethylene
/ HDPE). Polietilen densitas rendah relatif lemas dan kuat, digunakan
antara lain untuk pembuatan kantong kemas, tas, botol, industri
bangunan, dan lain-lain.
Polietilen densitas tinggi sifatnya lebih keras, kurang transparan dan tahan panas sampai suhu 1000C.
Campuran polietilen densitas rendah dan polietilen densitas tinggi
dapat digunakan sebagai bahan pengganti karat, mainan anak-anak, dan
lain-lain.
2. Polipropilen
Polipropilen
mempunyai sifat sangat kaku; berat jenis rendah; tahan terhadap bahan
kimia, asam, basa, tahan terhadap panas, dan tidak mudah retak. Plastik
polipropilen digunakan untuk membuat alat-alat rumah sakit, komponen
mesin cuci, komponen mobil, pembungkus tekstil, botol, permadani, tali
plastik, serta bahan pembuat karung.
3. Polistirena
Polistiren
adalah jenis plastik termoplast yang termurah dan paling berguna serta
bersifat jernih, keras, halus, mengkilap, dapat diperoleh dalam berbagai
warna, dan secara kimia tidak reaktif. Busa polistirena digunakan untuk
membuat gelas dan kotak tempat makanan, polistirena juga digunakan
untuk peralatan medis, mainan, alat olah raga, sikat gigi, dan lainnya.
4. Polivinil klorida (PVC)
Plastik
jenis ini mempunyai sifat keras, kuat, tahan terhadap bahan kimia, dan
dapat diperoleh dalam berbagai warna. Jenis plastik ini dapat dibuat
dari yang keras sampai yang kaku keras. Banyak barang yang dahulu dapat
dibuat dari karet sekarang dibuat dari PVC. Penggunaan PVC terutama
untuk membuat jas hujan, kantong kemas, isolator kabel listrik, ubin
lantai, piringan hitam, fiber, kulit imitasi untuk dompet, dan pembalut
kabel.
5. Potetrafluoroetilena (teflon)
Teflon memiliki daya tahan kimia dan daya tahan panas yang tinggi (sampai 2600C)
Keistimewaan teflon adalah sifatnya yang licin dan bahan lain tidak
melekat padanya. Penggorengan yang dilapisi teflon dapat dipakai untuk
menggoreng telur tanpa minyak.
6. Polimetil pentena (PMP)
Plastik poli metil pentena adalah plastik yang ringan dan melebur
pada suhu 2400C. Barang yang dibuat dari PMP bentuknya tidak berubah
bila dipanaskan sampai 2000C dan daya tahannya terhadap benturan lebih
tinggi dari barang yang dibuat dari polistiren.
Bahan
ini tahan terhadap zat-zat kimia yang korosif dan tahan terhadap
pelarut organik, kecuali pelarut organik yang mengandung klor, misalnya
kloroform dan karbon tetraklorida. PMP cocok untuk membuat alatalat
laboratorium dan kedokteran yang tahan panas dan tekanan, tanpa
mengalami perubahan, Barang-barang dari bahan ini tahan lama.
Sumber: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-polimer/bentuk-polimer-dalam-kehidupan/bentuk-polimer-plastik/
Posted in: KELAS XIIElektrolisis
a. Sel dan Elektrolisis
Dalam sel, reaksi oksidasi reduksi
berlangsung dengan spontan, dan energi kimia yang menyertai reaksi kimia
diubah menjadi energi listrik. Bila potensial diberikan pada sel dalam
arah kebalikan dengan arah potensial sel, reaksi sel yang berkaitan
dengan negatif potensial sel akan diinduksi. Dengan kata lain, reaksi
yang tidak berlangsung spontan kini diinduksi dengan energi listrik.
Proses ini disebut elektrolisis. Pengecasan baterai timbal adalah contoh
elektrolisis.
Reaksi total sel Daniell adalah
Zn + Cu2+(aq) –> Zn2+(aq) + Cu (10.36)
Andaikan
potensial lebih tinggi dari 1,1 V diberikan pada sel dengan arah
kebalikan dari potensial yang dihasilkan sel, reaksi sebaliknya akan
berlangsung. Jadi, zink akan mengendap dan tembaga akan mulai larut.
Zn2+(aq) + Cu –> Zn + Cu2+(aq) (10.37)
Gambar
10.6 menunjukkan representasi skematik reaksi kimia yang terjadi bila
potensial balik diberikan pada sel Daniell. Bandingkan dengan Gambar
10.2.
Gambar
10.6 Electrolisis. Reaksi kebalikan dengan yang terjadi pada sel
Daniell akan berlangsung. Zink mengendap sementara tembaga akan melarut.
b. Hukum elektrolisis Faraday
Di
awal abad ke-19, Faraday menyelidiki hubungan antara jumlah listrik
yang mengalir dalam sel dan kuantitas kimia yang berubah di elektroda
saat elektrolisis. Ia merangkumkan hasil pengamatannya dalam dua hukum
di tahun 1833.
Hukum elektrolisis Faraday
|
C
(Coulomb) adalah satuan muatan listrik, dan 1 C adalah muatan yang
dihasilkan bila arus 1 A (Ampere) mengalir selama 1 s. Tetapan
fundamental listrik adalah konstanta Faraday F, 9,65 x104 C,
yang didefinisikan sebgai kuantitas listrik yang dibawa oleh 1 mol
elektron. Dimungkinkan untuk menghitung kuantitas mol perubahan kimia
yang disebabkan oleh aliran arus listrik yang tetap mengalir untuk
rentang waktu tertentu.
Contoh soal 10.7 hukum elektrolisis Faraday
Arus
sebesar 0,200 A mengalir melalui potensiometer yang dihubungkan secara
seri selama 20 menit. Satu potensiometer memiliki elektrode Cu/CuSO4 dan satunya adalah elektrode Pt/ H2SO4 encer. Anggap Ar Cu = 63,5. Tentukan
- jumlah Cu yang mengendap di potensiometer pertama.
- Volume hidrogen pada S. T. P. yang dihasilkan di potensiometer kedua.
Jawab
Jumlah muatan listrik yang lewat adalah 0,200 x 20 x 60 = 240, 0 C.
Jumlah muatan listrik yang lewat adalah 0,200 x 20 x 60 = 240, 0 C.
- Reaksi yang terlibat adalah Cu2+ + 2e-–> Cu, maka massa (w) Cu yang diendapkan adalah. w (g) = [63,5 (g mol-1)/2] x [240,0 (C)/96500(C mol-1)] = 0,079 g
- Karena reaksinya 2H+ + 2e-–> H2, volume hidrogen yang dihasilkan v (cm3) adalah.
v (cm3) = [22400 (cm3mol-1)/2] x [240,0(C)/96500(C mol-1)] = 27,85 cm3
c. Elektrolisis penting di industri
Elektrolisis
yang pertama dicoba adalah elektrolisis air (1800). Davy segera
mengikuti dan dengan sukses mengisolasi logam alkali dan alkali tanah.
Bahkan hingga kini elektrolisis digunakan untuk menghasilkan berbagai
logam. Elektrolisis khususnya bermanfaat untuk produksi logam dengan
kecenderungan ionisasi tinggi (misalnya aluminum). Produksi aluminum di
industri dengan elektrolisis dicapai tahun 1886 secara independen oleh
penemu Amerika Charles Martin Hall (1863-1914) dan penemu Perancis Paul
Louis Toussaint Héroult (1863-1914) pada waktu yang sama. Sukses
elektrolisis ini karena penggunaan lelehan Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (aluminum oksida; alumina Al2O3).
Sebagai
syarat berlangsungnya elektrolisis, ion harus dapat bermigrasi ke
elektroda. Salah satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai
mobilitas adalah dengan menggunakan larutan dalam air. Namun, dalam
kasus elektrolisis alumina, larutan dalam air jelas tidak tepat sebab
air lebih mudah direduksi daripada ion aluminum sebagaimana ditunjukkan
di bawah ini.
Al3+ + 3e-–> Al potensial elektroda normal = -1,662 V (10.38)
2H2O +2e-–> H2 + 2OH- potensial elektroda normal = -0,828 V (10.39)
Metoda lain adalah dengan menggunakan lelehan garam. Masalahnya Al2O3
meleleh pada suhu sangat tinggi 2050 °C, dan elektrolisis pada suhu
setinggi ini jelas tidak realistik. Namun, titik leleh campuran Al2O3 dan Na3AlF6
adalah sekitar 1000 °C, dan suhu ini mudah dicapai. Prosedur detailnya
adalah: bijih aluminum, bauksit mengandung berbagai oksida logam sebagai
pengotor. Bijih ini diolah dengan alkali, dan hanya oksida aluminum
yang amfoter yang larut. Bahan yang tak larut disaring, dan karbon
dioksida dialirkan ke filtratnya untuk menghasilkan hidrolisis garamnya.
Alumina akan diendapkan.
Al2O3(s) + 2OH-(aq)–> 2AlO2- (aq) + H2O(l) (10.40)
2CO2 + 2AlO2 -(aq) + (n+1)H2O(l) –> 2HCO3- (aq) + Al2O3·nH2O(s) (10.41)
Alumina yang didapatkan dicampur dengan Na3AlF6
dan kemudian garam lelehnya dielektrolisis. Reaksi dalam sel
elektrolisi rumit. Kemungkinan besar awalnya alumina bereaksi dengan Na3AlF6 dan kemudian reaksi elektrolisis berlangsung.
Al2O3 + 4AlF63-–> 3Al2OF62- + 6F- (10.42)
Reaksi elektrodanya adalah sebagai berikut.
Elektroda negatif: 2Al2OF62- + 12F- + C –> 4AlF63- + CO2 + 4e- (10.43)
Elektroda positif: AlF63- + 3e-–> Al + 6F- (10.44)
Reaksi total: 2Al2O3 + 3C –> 4Al + 3CO2 (10.45)
Kemurnian aluminum yang didapatkan dengan prosedur ini kira-kira 99,55
%. Aluminum digunakan dalam kemurnian ini atau sebagai paduan dengan
logam lain. Sifat aluminum sangat baik dan, selain itu, harganya juga
tidak terlalu mahal. Namun, harus diingat bahwa produksi aluminum
membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar.
Latihan
10.1 Bilangan oksidasi
Tentukan bilangan oksidasi setiap unsur yang ditandai dengan hurugf tebal dalam senyawa berikut.
(a) HBr (b) LiH (c) CCl4 (d) CO (e) ClO- (f) Cl2O7 (g) H2O2 (h) CrO3 (i) CrO42- (j) Cr2O72-
10.1 Jawab
(a) +1 (b) -1 (c) +4 (d) +2 (e) +1 (f) +7 (g) -1 (h) +6 (i) +6 (j) +6
10.2 Reaksi oksidasi reduksi
Untuk
tiap reaksi berikut, tentukan bilangan oksidasi atom berhuruf tebal.
Tentukan oksidan dan reduktan dan tentukan perubahan bilangan
oksidasinya.
(a) PbO2 + 4H+ + Sn2+ –> Pb2+ + Sn4+ + 2H2O
(b) 5As2O3 + 4MnO4- + 12H+ –> 5As2O5 + 4Mn2+ + 6H2O
10.2 Jawab
(a) Pb: +4 –> +2 direduksi. Sn: +2 –> +4 dioksidasi
(b) As: +3 –> +5 dioksidasi. Mn: +7 –> +2 direduksi
10.3 Titrasi oksidasi reduksi
0,2756 g kawat besi dilarutkan dalam asam sedemikian sehingga Fe3+ direduksi menjadi Fe2+. Larutan kemudian dititrasi dengan K2Cr2O7 0,0200 mol.dm-3 dan diperlukan 40,8 cm3 larutan oksidan untuk mencapai titik akhir. Tentukan kemurnian (%) besinya.
10.3 Jawab
99,5 %
10.4 Potensial sel
Tentukan
potensial sel (pada 25°C) yang reaksi totalnya diberikan dalam
persamaan berikut. Manakah yang akan merupakan sel yang efektif?
- Mg + 2H+ –> Mg2+ + H2
- Cu2+ + 2Ag –> Cu + 2Ag+
- 2Zn2+ + 4OH-–> 2Zn + O2 + 2H2O
10.4 Jawab
- Mg –> Mg2+ +2e-, +2,37 V. 2H+ + 2e-–> H2, 0,00 V; potensial sel: +2,37 V,efektif.
- Cu2+ + 2e-–> Cu, 0,337 V. Ag–> Ag+ + e-, -0,799 V, potensial sel: -0,46 V,tidak efektif.
- Zn2+ + 2e-–> Zn, -0,763 V. 4OH-–> 4e- + O2 + 2H2O, -0.401 V potensial sel: -1,16 V, tidak efektif.
10.5 Persamaan Nernst
Hitung potensial sel (pada 25°C) yang reaksi selnya diberikan di bawah ini.
Cd + Pb2+ –> Cd2+ + Pb
[Cd2+] = 0,010 mol dm-3; [Pb2+] = 0,100 mol dm-3
10.5 Jawab
0,30 V
10.6 Hukum Faraday
Bismut
dihasilkan dengan elektrolisis bijih sesuai dengan persamaan berikut.
5,60 A arus listrik dialirkan selama 28,3 menit dalam larutan yang
mengandung BiO+. Hitung massa bismut yang didapatkan.
BiO+ + 2H+ + 3e- –> Bi + H2O
10.6 Jawab
6,86 g
Sumber: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/oksidasi_dan_reduksi1/elektrolisis/
Posted in: KELAS XII


10.59
Unknown