KAMI MENYEDIAKAN BERBAGAI MATERI TENTANG KIMIA. SEMOGA BERMANFAAT!
Tampilkan postingan dengan label Kabar Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Kimia. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012

Sandi DNA Membentuk Partikel Nano Emas

DNA mengandung sandi genetik untuk segala jenis molekul dan sifat manusia. Namun para peneliti Universitas Illinois telah menemukan kalau sandi DNA dapat membentuk struktur logam pula.

Tim ini menemukan kalau segmen DNA dapat mengarahkan bentuk partikel nano emas – kristal emas kecil yang dapat diterapkan dalam kedokteran, elektronika, dan katalisis. Dipimpin oleh Yi Lu, profesor kimia di Universitas Illinois, tim ini menerbitkan temuan mengejutkan mereka di jurnal   Angewandte Chemie.
“Sintesis partikel nano tersandi DNA dapat memberi kita cara baru untuk menghasilkan partikel nano dengan bentuk dan sifat teramalkan,” kata Lu. “Penemuan demikian berpotensi berdampak pada teknologi bio-nano dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari seperti sebagai katalis, sensor, pencitraan, dan kedokteran.”
 Partikel nano emas memiliki terapan yang luas pada biologi dan ilmu bahan karena sifat fisikokimianya yang unik. Sifat partikel nano emas sangat ditentukan oleh bentuk dan ukurannya, jadi penting untuk mampu merancang sifat partikel nano untuk terapan tertentu.
 “Kami bertanya apakah kombinasi barisan DNA berbeda dapat memiliki ‘sandi genetik’ untuk mengarahkan sintesis bahan nano dengan cara yang sama dengan arah sintesis protein mereka,” kata Zidong Wang, lulusan baru dari grup Lu dan pengarang perdana makalah ini.

 Partikel nano emas dibuat dengan merajut benih emas kecil dalam larutan garam emas. Partikel ini tumbuh sebagai emas dalam larutan garam yang terendapkan ke benih. Grup Lu menginkubasi benih emas dengan segmen pendek DNA sebelum menambah larutan garam, menyebabkan partikel ini tumbuh dalam berbagai bentuk yang ditentukan oleh sandi genetik DNA.
 Abjad DNA mengandung empat huruf: A, T, G, dan C. Istilah sandi genetik merujuk pada barisan huruf-huruf ini, yang disebut basa. Empat basa dan kombinasinya dapat berikatan berbeda dengan benih nano emas dan mengarahkan jalur pertumbuhan benih emas, menghasilkan berbagai bentuk.
 Dalam eksperimen mereka, para peneliti menemukan kalau untaian A berulang menghasilkan partikel emas bulat kasar; T menghasilkan bintang, C menghasilkan cakram bulat lempeng; dan G menghasilkan heksagon. Lalu grup ini menguji untai DNA yang merupakan kombinasi dua basa, misalnya, 10 T dan 20 A. Mereka menemukan kalau banyak basa bersaing satu sama lain menghasilkan bentuk perantara, walaupun A selalu mendominasi T.
 Selanjutnya, para peneliti berencana menyelidiki bagaimana sandi DNA mengarahkan pertumbuhan partikel nano. Mereka juga berencana menerapkan metode mereka untuk mensintesis tipe bahan nano lainnya untuk penerapan baru.

Sumber berita:
http://www.faktailmiah.com/2012/08/17/sandi-dna-membentuk-partikel-nano-emas.html

Inovasi Terbaru Menuai Hidrogen dari Air

Usaha para ilmuwan dalam mencari energi alternatif pengganti bahan bakar fosil terus dilakukan, terutama sejak memasuki abad ke-21 ini. Hingga saat ini persentase penggunaan energi alternatif masih sangat sedikit dikarenakan efektivitas dan efisiensinya yang tergolong masih kecil. Hal seperti ini juga tampak pada penggunaan bahan bakar hidrogen. Meski beberapa perusahaan otomotif seperti Ford dan Honda telah merilis mobil berbahan bakar hidrogen, pada kenyataannya penggunaannya masih sedikit. Problema ini tak lepas dari mahalnya hidrogen cair karena biaya produksinya yang dapat dikatakan tidak murah.
Hidrogen memiliki banyak kelebihan, antara lain memiliki energi pembakaran yang besar per satuan massa hidrogen dan merupakan bahan bakar yang sangat bersih karena emisi pembakarannya berupa air (H2O). Baru-baru ini, tim peneliti dari School of Chemistry Monash University Australia telah menemukan inovasi baru dalam mengubah air menjadi hidrogen lewat proses elektrofotokatalisis yang terinspirasi dari cara tumbuhan mengubah air menjadi oksigen.
Para ilmuwan di dunia mengakui bahwa bagian tersulit dari mengubah air menjadi bahan bakar adalah mengonversi air menjadi hidrogen dan oksigen. Tim peneliti yang telah mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal Nature Chemistry ini berhasil membuat sistem sel konversi air menjadi hidrogen menggunakan katalis berbasis logam mangan (Mn). Katalis ini sendiri memiliki struktur molekul yang menyerupai mineral mangan birnessite [(Na0.3Ca0.1K0.1)(Mn4+,Mn3+)2O4 · 1.5 H2O].
Tim peneliti tersebut memanfaatkan tingkat oksidasi dari ion mangan, terutama mangan (II) dan mangan (IV) untuk mengoksidasi air menjadi oksigen dan hidrogen. Pemberian tegangan listrik akan mengubah mangan (II) pada birnessite teroksidasi menjadi mangan (IV). Selanjutnya pemaparan dengan cahaya matahari akan mengembalikan bentuk mangan (IV) menjadi mangan (II) sekaligus mengubah dua molekul air (H2O) menjadi satu molekul gas oksigen (O2), empat proton (H+), dan empat elektron. Selanjutnya keempat proton dan elektron tersebut bergabung menjadi dua molekul gas hidrogen (H2). Siklus katalis mangan berlangsung cepat dan voltase listrik yang dibutuhkan tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan elektrolisis langsung air menggunakan elektroda inert.
Inovasi ini terbukti menghasilkan gas hidrogen dari air secara lebih mudah dan murah. Penemuan ini diharapkan akan menginspirasi produsen bahan bakar hidrogen di dunia untuk mengaplikasikannya sehingga akan terwujud penggunaan bahan bakar hidrogen yang mengglobal.

Penetasan Nanopartikel Emas

Penetasan nanopartikel emas yang dilapisi dengan kerangka tipis oksida memungkinkan surface-enhanced Raman scattering (SERS) untuk menguji varietas sample yang lebih luas, termasuk dengan yang menggunakan morfologi tak beraturan.
SERS biasanya meliputi penempatan suatu sample pada suatu permukaan metal yang kasar, yang memperkuat sinyal Raman dari suatu sample tersebut. Zhong Qun Tian dari Xiamen University, di Cina; Zhong Lin Wang dari Georgia Tech; beserta para rekan kerjanya mengubah konfigurasi biasa ini secara terbalik.
Para peneliti menetasakan suatu sample dengan silica – atau alumina-yang dilapisi dengan nanopartikel emas dan kemudian mengumpulkan spectra Raman (Nature 2010, 464, 392). Mereka menyebut menamainya dengan metode baru kerangka –nanopartikel terisolasi –yang memperkuat spektroskopi Raman, atau SHINERS.
“Smart dust” meliputi nanopartikel emas berukuran 55-nm yang dibungkus dengan suatu kerangka silica atau alumina. Kerangka ini, yang ketebalannya berukuran 2 nm, mengisolasi beberapa partikel dari suatu sample dan dari tiap-tiapnya, namun masih memungkinkan peningkatan sinyal Raman. “Tiap-tiap partikel seperti lubang yang mandiri, tetapi lapisannya cukup tipis guna memungkinkan emas tersebut secara efektif meningkatkan sinyal Raman pada permukaan molekul yang akan dideteksi,” kata Wang.
“Pelapisan dialektris merupakan suatu ide yang bagus, karena hal ini mengubah kelembaman partikel,” kata Renato Zenobi dari Swiss Federal Institute of Technology, Zurich, penemu metode terkait yang dinamakan tip-enhanced Raman spectroscopy (TERS).
Debu tersebut meningkatkan tingkat sensitifitas relative SHINERS dan TERS. Dibandingkan dengan TERS, SHINERS mempunyai sedikit resolusi spasial namun memiliki intensitas sinyal yang lebih tinggi dari sejumlah besar nanopartikel pada sampelnya, kata Zenobi.
Dengan menggunakan SHINERS, Tian, Wang, beserta para rekan kerjanya menganalisa suatu jangkauan luas dari suatu sampel. Mereka mengukur adsorpsi hidrogen pada permukaan datar kristal tunggal yang terbuat dari platinum dan silicon. Mereka juga memperoleh spectra protein pada dinding sel ragi. Bahkan mereka mampu untuk mendeteksi residu peptisida pada buah-buahan segar.
Wang mengharapkan penggunaan teknik ini pada alat portable tangan yang dapat “membuat Raman ini berpindah dari laboratorium ke keseharian orang-orang.”

Sumber: http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/penetasan-nanopartikel-emas/

Solar Sel

solar selSel Solar sebentar lagi akan dapat diproduksi lebih murah lagi dengan menggunakan partikel  nano “tinta” akan dicatkan pada sisi gedung atau atapnya untuk menyerap listrik yang diproduksi sinar matahari.
Brian Korgel, seorang insinyur kimia padaUniversitas Texas di Austin, mengaharapkan untuk memangkas biaya sepersepuluh dari harga mereka sekarang dengan menggantikan standard proses pabrikasi untuk sel – sel  solar disposisi fase gas pada ruang vakum, yang membutuhkan suhu tinggi  dan relative sangat mahal.
“Hal ini sangat esensial dengan apa yang dibutuhkan untuk membuat teknologi sel – sel solar dan  photovoltaics secara luas untuk diadopsi,” kata Korgel. “Matahari menyediakan sumber energi hampir tanpa batas, tetapi keberadaan energi solar yang menghasilkan beberapa teknologi menjadi penghalang yang sangat mahal dan tidak dapat diselesaikan dengan bahan baker fosil.”
Hampir lebih dari dua tahun, Korgel dan timnya telah berusaha pada biaya rendah pabrikasi dari solusi bahan nano hingga photovoltaics – atau sel solar. Korgel bekerja sama dengan profesor Al Bard dan Paul Barbara, keduanya dari Department Kimia dan Biokimia, serta Profesor Ananth Dodabalapur dari  Departemen Teknik Listrik dan Komputer. Baru – baru ini mereka memperlihatkan bukti konsep mereka yang diterbitkan baru – baru ini pada Jurnal American Chemical Society.
Tinta ini dapat dicetak pada berrol – rol proses pencetakan pada sebuah substrat plastic atau stainless steel. Dan prospek untuk bias dapat mengecatkan “tinta” ini pada atap rumah atau gedung tidaklah dibuat – buat.
“Anda hanya perlu mengecat bahan yang menyerap sinar dan juga beberapa lapisan lainnya,” kata Korgel. “Hal ini selangkah maju ke arah sel solar yang dapat dicatkan.”
Korgel menggunakan bahan nano yang menyerap sinar, yang mana 10,000 kali lebih kecil ketimbang helai rambut, karena ukuran mikrokospis mereka memperbolehkan untuk  property fisik baru yang dapat memudahkan peralatan dengan efisiensi tinggi.
Pada tahun 2002, dia pimpinan yang mendirikan sebuah perusahaan bernama Innovalight, berpusat di California, yang memproduksi tinta – tinta dengan menggunakan silicon sebagai dasarnya. Sekarang ini, Korgel dan timnya sedang menggunakan copper indium gallium selenide atau CIGS, yang keduanya murah dan ramah terhadap dampak lingkungannya.
“CIGS mempunyai beberapa keuntungan diatas silicon,” jelas Korgel. “Ini merupakan semikonduktor langsung pita pembatas, yang berarti bahwa anda perlu sedikit sekali bahan untuk membuat sel solar, dan itu merupakan salah satu potensi terbesar keuntungannya.”
Timnya telah mengembangkan prototype sel solar dengan efisiensi sekitar satu persen; bagaimanapun, mereka perlu sekitar 10 persen.
“Jika kita sampai 10 persen, lalu pasti ada potensi nyata untuk komersialisasi,” kata Korgel. “Jika ini berhasil, Saya pikir anda dapat melihat benda ini akan digunakan dalam tiga atau lima tahun.”
Dia juga mengatakan bahwa tinta ini, yang mana semi-transparan, dapat membantu merealisasikan prospek mempunyai jendela yang berfungsi ganda sebagai sel solar. Korgel mengatakan pekerjaannya  telah menarik minat rekanan dari industrial.

Sumber: http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_material/sel-sel-solar-yang-dicatkan-pada-atap-rumah/

Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan

Randall Hartolaksono di indonesiaproud wordpress comSiapa yang peduli dan menaruh perhatian pada kulit singkong? Jangankan kulit, dagingnya pun tak banyak mendapat perhatian kaum ilmuwan. Namun, di tangan Randall Hartolaksono, kulit singkong bisa diubah menjadi bahan anti api kelas dunia. Temuan revolusioner arek Suroboyo kelahiran 16 Maret 1956 ini terjadi secara tak sengaja.
Saat itu, ia kuliah di jurusan Teknik Mesin Universitas London (ia masuk tahun 1977, karena para dosennya sulit mengeja Hartolaksono maka kemudian namanya sering dipanggil Hart) dan meneliti saripati kulit singkong untuk bahan pelumas engsel robot, tak sengaja ia menumpahkan bahan itu di atas nyala api. Ternyata api padam. Randall takjub. Di bawah bimbingan Profesor Evans, ia meneliti keampuhan kulit singkong.
Saripati singkong, menurutnya, terbukti memutus reaksi kimia berantai dalam proses kebakaran. “Zat aktif itu bisa mencegah lompatan energi elektron melewati titik kritis di lapisan terluar atom saat pembakaran”, katanya.
Randall menjuluki teorinya “free radical” atau radikal bebas. Teori ini sempat ditolak pakar Inggris dalam pertemuan tahunan di Edinburgh University, Skotlandia, 1982.
Baru setelah uji coba laboratorium selama lima tahun, teori Randall diakui. “Mereka menyebutnya teori pemutusan rantai kimia”, katanya.

Dalam penelitian lanjutan, zat aktif dari kulit singkong, seperti tripotasium sitrat, itu bisa dikembangkannya menjadi aneka produk anti api. Ada yang seperti cat, dioleskan pada kayu, membuat tahan api selama 200 tahun! Ada juga yang dimasukkan pada tabung semprot untuk memadamkan nyala api.
Kini tiga produk temuan Randall telah mendapat sertifikat uji standar dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Produknya bisa menembus banyak tempat elit, seperti Istana Buckingham Inggris. Perusahaan Malaysia seperti Petronas, Proton dan Telecom mengganti produk halon dengan produk Randall yang ramah lingkungan. Beberapa hotel berbintang pun mulai disusupi produk Randall.
Pemegang status permanent residence di Inggris dan Singapura ini membangun kerajaan bisnisnya yang dinamai Hartindo Chemicatama Industri. Selain di Jakarta dan Surabaya, Randall juga membangun pabrik perakitan di Malaysia, Singapura, Taiwan, Inggris dan Thailand.
Tapi sukses tidak diraih Randall dengan gampang. Sebelum mendapat banyak lisensi, ia harus keluar masuk laboratorium di mancanegara. Ia memberi contoh, AF11E yang ditemukan pada 1983 baru mendapat sertifikat uji standar dari Amerika tahun 2000. Randall membuktikan, jadi inovator tak cukup hanya kreatif, melainkan juga harus ulet dan sabar.
Pendidikan & Karier
Randall Hart, BSc. MSc., Ia menjabat sebagai Managing Director dari beberapa perusahaan, yaitu PT. Hart Industries Limited (UK), London, Inggris, sejak tahun 1990; PT. Hartindo Chemicatama Industri (mulai tahun 1992); Newstar Holdings Singapore (dari tahun 1995); dan Newstar Chemicals Malaysia (sejak tahun 2000).
Randall mengenyam pendidikan formal di SMA Pangudi Luhur-Jakarta, Advance Level in Science (Hounslow Borough College-London UK), BSc. serta MSc. di Mechanical Engineering (Queen Mary College-London University, UK).
Selain itu, ia juga pernah mengikuti beberapa pendidikan non-formal, mulai dan Kursus Kimia, Bahasa Melayu, hingga Pendidikan Pemadam Kebakaran. Untuk yang terakhir, bahkan ia mempunyai 2 ijazah, yaitu dan Fire Service College dan Washington Hall College, yang merupakan lembaga pendidikan pemadam kebakaran terbesar di dunia.
Perjalanan kariernya dimulai pada tahun 1983, dengan bekerja sebagai Production Engineer Mobil Oil Indonesia, yang dijalaninya sampai tahun 1985. Setelah itu, ia sempat bekerja di Petroleum Engineer Petroleum, UK (1986-1990), sebelum akhirnya mendirikan perusahaan-perusahaan yang sampai sekarang dikelolanya.
Setelah lulus SMA, Randall sempat melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti-Jakarta. Tetapi kemudian, saat berumur 18 tahun, ia dikirim untuk belajar ke London. Di sana, sesuai dengan kesenangannya dalam hal mesin, ia menekuni bidang Mechanical Engineer, hingga memperoleh gelar BSc. dan MSc.
Sejak menemukan bahan kimia yang dapat memadamkan dan mencegah timbulnya api pada tahun 1979, Randall dapat dikatakan sudah terjun ke dunia industri, tepatnya di bidang Fire Safety. Dimana, setelah itu ia berkutat untuk menyusun suatu Formula, hingga akhirnya berhasil menciptakan bahan kimia baru untuk memadamkan serta mencegah api.
Di bidang Organisasi Profesi, namanya tercatat di dalam keanggotaan berbagai Asosiasi Profesional Intemasional, antara lain Institute of Mechanical Engineer (IME-UK), National Fire Prevention Association (NFPA -USA), Fire Prevention Association (FPA-UK), Malaysian Fire Protection Association (MFPA – Malaysia) dan Institute of Fire Engineer (IFE-UK).

Sumber: http://indonesiaproud.wordpress.com/2012/07/22/randall-hartolaksono-penemu-formula-kimia-pemadam-api-ramah-lingkungan/

Chip Yang Terintegrasi Kimia

penemuan baru chip yang terintegrasi kimia pertama di dunia Penemuan baru chip yang terintegrasi kimia pertama di dunia. Sebuah penemuan baru di bidang rekayasa kontol yang terintegrasi kimia pertama, mirip dengan silikon berbasis elektronik, tetapi untuk bahan biologis untuk kontrol tubuh manusia. Mengingat tubuh manusia bukanlah mesin, melaingkan jutaan syaraf yang sangat rumit, dan mengatur tubuh manusia dimana pusat konntrolnya terdapat pada otak sangatlah sulit. Penemuan baru ini ditemukan oleh Klas Tybrandt, seorang mahasiswa doktor dalam Elektronika Organik di Universitas Linköping, Swedia.
Sebuah rangkaian kimia yang mirip dengan silikon memungkinkan zat kimia yang berbeda dapat berjalan melalui tubuh, dan mengirim sinyal ke otak yang akan mengontrol pergerakan tubuh. Kirim kimia tertentu untuk sinapsis otot yang tidak sinyal, misalnya, dan membimbing melalui sirkuit. (Pesaing kimia besar dalam hal ini tampaknya menjadi asetilkolin neurotransmitter, yang memungkinkan kontrol otot.) Sebelum ini, Electronics Organik kelompok riset di Linköping University telah mengembangkan transistor untuk mengangkut molekul, tapi sirkuit ini menawarkan lebih banyak fleksibilitas pengiriman sel tunggal keseluruhan.
Para peneliti berharap ini membuka gerbang untuk bidang baru dari teknologi sirkuit berdasarkan ion dan molekul elektron.
Sementara chip silikon yang ditemukan dalam perangkat elektronik yang dibangun di sekitar aliran elektron melalui sirkuit, dengan pengembangan “chip kimia terintegrasi “, seorang mahasiswa doktor di Linköping University jurusan Elektronik Organik di Swedia telah menciptakan dasar untuk teknologi sirkuit yang sama sekali baru berdasarkan transmisi ion dan molekul.
Sementara Elektronik Organik kelompok riset di Universitas Linköping sebelumnya mengembangkan transistor ion yang mampu mengangkut kedua ion positif dan negatif, serta biomolekul, doktor siswa Klas Tybrandt telah pergi satu langkah lebih jauh dengan menggabungkan kedua jenis transistor ke sirkuit yang saling melengkapi, mirip dengan cara tradisional berbasis silikon elektronik. Seperti berbasis silikon chip, chip kimia terintegrasi berisi gerbang logika, seperti gerbang NAND, yang membentuk dasar dari elektronika digital dengan memungkinkan untuk pembangunan semua fungsi logis.
Tapi tidak seperti silikon tradisional berbasis elektronik di mana elektron bertindak sebagai pembawa muatan, sirkuit kimia menggunakan zat kimia. Para peneliti mengatakan bahwa karena zat kimia dapat memiliki berbagai fungsi, chip kimia memberikan peluang baru untuk mengontrol dan mengatur jalur sinyal sel dalam tubuh manusia.
“Kita bisa, misalnya, mengirimkan sinyal ke sinapsis otot mana sistem sinyal mungkin tidak bekerja untuk beberapa alasan,” kata Magnus Berggren, Profesor Elektronik Organik dan pemimpin kelompok penelitian. “Kami tahu karya chip kami dengan zat sinyal umum, misalnya asetilkolin.”
Terobosan ini datang di bagian belakang pekerjaan dimulai tiga tahun lalu oleh Tybrandt dan Berggren untuk mengembangkan transistor ion yang dapat mengontrol dan mengangkut ion dan biomolekul dibebankan. Para peneliti di Karolinska Institutet kemudian menggunakan transistor untuk mengontrol pengiriman ke sel-sel individual asetilkolin, yang bertindak sebagai neurotransmitter di sistem saraf perifer, pusat, otonom dan somatik.

Sumber: http://teknologiterbaru2012.wordpress.com/2012/05/12/penemuan-baru-chip-yang-terintegrasi-kimia-pertama-di-dunia/

Penemuan: Air Elastis

Ilmuwan Jepang telah menciptakan “air elastis.”
Dikembangkan di Tokyo University, materi baru ini sebagian besar terdiri atas air (95%) dengan tambahan dua gram tanah liat dan bahan organik. Menyerupai zat yang dihasilkan agar-agar atau gel, namun sangat elastis dan transparan.

Penemuan ini awalnya terungkap minggu lalu dalam edisi terbaru majalah ilmiah Nature. Menurut para ilmuwan Jepang, bahan baru ini sangat aman untuk lingkungan dan manusia, dan sangat mungkin untuk menjadi salah satu media penting dalam teknologi kedokteran untuk menolong yang terluka atau menyelesaikan pembedahan yang aman (seperti menggantikan bagian-bagian tubuh yang dipotong).
Bahkan dengan meningkatkan densitasnya, material baru ini dapat digunakan untuk menghasilkan “bahan plastik ekologis,” atau bisa menggantikan plastik sama sekali. Tahap ini masih dalam penelitian hingga September 2010. Namun jika berhasil, para ilmuwan mungkin telah menemukan sebuah terobosan untuk membuat dunia sedikit lebih hijau.

Sumber: http://chemistpoenablog.wordpress.com/2010/12/03/penemuan-terbaru-di-bidang-kimia/

Elemen Kimia Terbaru: Copernicium

KMK (JD) Dunia kimia digemparkan lagi nih sama penemuan elemen kimia terbaru 112 pada tabel periodik yang akan diberi nama copernicium. Pemberian nama tersebut kabarnya sebagai bentuk penghargaan bagi ahli astronomi Nicolaus Copernicus. “Kami ingin menghormati seorang ilmuwan terkemuka yang merubah pandangan kami di dunia,” kata Hofmann Sigurd, ketua tim penemuan pusat penelitian ion berat Helmholtz Center di Kota Darmstadt, Jerman, baru-baru ini.

Elemen Kimia Terbaru Diberi Nama Copernicium

Copernicus yang hidup pada kurun waktu 1473-1543, telah membuktikan bahwa matahari merupakan orbit bumi. Penemuannya itu dinilai membuka jalan pada manusia untuk melihat dunia.
Sekedar informasi aja, pada tahun 1996 ilmuwan menemukan elemen 112. Elemen kimia bernomor 112 atau uninbium akan dimasukkan dalam tabel periodik secara resmi oleh The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) dalam waktu dekat. Uninbium merupakan bahasa Latin dari angka 112.
Uninbium pertama kali diciptakan dengan cara menembakkan atom elemen seng (Zn) ke logam timbal (Pb) melalui akselerator partikel sepanjang 120 meter. Elemen ini memiliki massa 277 kali lebih berat dari hidrogen sehingga menjadi elemen terberat yang ada dalam tabel periodik.
Ununseptium sendiri Merupakan unsure kimia baru, dan  untuk sementara dinamai unsur ke 117 . Ununseptiun adalah  kombinasi antara isotop berkelium dan kalsium yang diciptakan para ilmuwan di Dubna, Rusia. Para fisikawan mengatakan bahwa unsur ini bisa menunjukkan “island of stability”, dimana unsur yang terberat bisa bertahan selama berbulan-bulan.
Unsur dengan nomor atom 117 ini dibuat dengan cara memborbardir 249Bk dengan ion kalsium dalam siklotron JINR U4000 selama 150 hari yang terdapat di Dubna. Keseluruhan proses yang memakan waktu tidak lebih dari 320 hari yang merupakan waktu paruh unsur Bk (150 hari dalam siklotron+analisis data+review oleh tim peneliti) ini akhirnya berhasil menghasilkan 6 atom Ununseptium. Masing-masing dari keenam atom tersebut kemudian meluruh dengan memancarkan partikel alfa menjadi unsur bernomor atom 115 kemudian 113 sampai intinya terbelah menjadi dua atom yang lebih stabil.

Sumber: http://kmkimia.mipa.ugm.ac.id/2012/03/elemen-kimia-terbaru-diberi-nama-copernicium/

Tahun Internasional Kimia 2011

Kabar gembira buat semua pecinta kimia, karena dua tahun mendatang tepatnya tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011 (International Year of Chemistry – IYC 2011 – Our Life , Our Future). Gagasan Tahun Internasional Kimia 2011 ini pertama kali dicanangkan pada bulan Agustus 2007 pada pertemuan umum The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) di Turin Italia. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh dewan PBB dan pada pertemuan PBB bulan Desember 2008, IUPAC dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyetujui untuk merayakan tahun 2011 sebagai Tahun Internasional Kimia. Tahun 2011 juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun penghargaan Nobel Prize Kimia untuk Mme Maria Sklodowska Curie, yang berarti juga peringatan akan kontribusi wanita ke ilmu sains.
Peranan kimia dalam kehidupan manusia begitu penting, seluruh materi baik padat, larutan dan gas tersusun dari berbagai unsur-unsur kimia dan bahkan seluruh proses kehidupan ditentukan oleh berbagai reaksi kimia.  IUPAC dan UNESCO menyadari sudah saatnya untuk memperingati keberhasilan kimia dan sumbangannya bagi kehidupan manusia.
“Tahun Internasional Kimia akan meningkatkan apresiasi global terhadap perkembangan ilmu kimia dalam kehidupan kita dan masa depan kita. Saya berharap peringatan ini dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia dan meningkatkan ketertarikan kaum muda akan ilmu sains serta memberikan masa depan yang cerah bagi masa depan kimia”, sambutan dari Ketua the International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC), Professor Jung-Il Jin pada pertemuan PBB.
“Saya menyambut kesempatan untuk memperingati kimia sebagai salah satu dasar dari ilmu sains,” ujar Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO, “Meningkatkan kepedulian publik terhadap kimia adalah suatu hal yang sangat penting dalam rangka menjawab tantangan pembangunan yang berkesinambungan. Adalah hal yang mutlak bahwa kimia berperan penting dalam membangun sumber alternatif energi dan menghidupi populasi dunia yang terus berkembang” tambahnya.
Dalam memperingati Tahun Internasional Kimia 2011 akan direncanakan berbagai aktivitas dan event baik regional, nasional dan internasional yang didukung baik dari asosiasi kimia nasional, institusi edukasi, industri, pemerintahan dan organisasi non-pemerintahan. Aktivitas dan event ini berusaha memperkenalkan kepada publik luas tentang peranan kimia, memberikan solusi terhadap tantangan global, dan membangun generasi muda yang peduli terhadap sains.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes